Smart Nagari Cupak

Loading...

Nagari Cupak

Jln. Lintas Sumatera Jorong Pasar Baru Nagari Cupak
Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat
Kode Pos 27365

call 07557333119| mail_outline info@cupak-slk.desa.id

Selamat Datang di Website Resmi Nagari Cupak Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat
fingerprint
Nagari Cupak dimasa Revolusi Kemerdekaan

09 Apr 2021 14:44:13 202 Kali

BAB IV NAGARI CUPAK DALAM REVOLUSI

  1. Nagari Cupak Dimasuki Belanda

Masyarakat Indonesia mengetahui kekalahan Jepang dalarn peperangan Asia Timur Raya (Perang Fasifik). Kenyataan tersebut diketahui dengan melalui berbagai saluran berita. Kekalahan Jepang merupakan peluang yang sangat baik bagi bangsa Indonesia untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno - Hatta atas nama bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Soekarno menyatakan bahwa sesudah proklamasi diproklamirkan tidak ada lagi sesuatu ikatan yang mengikat tanah air dan bangsa Indonesia. Mulai saat itu bangsa Indonesia menyusun negaranya sendiri, negara yang merdeka, Negara Republik Indonesia yang damai dan tentram. Menurut Soekarno semoga Tuhan memberkati kemerdekaan Indonesia. berdirinya negara Indonesia yang merdeka’ menimbulkan kegembiraan dan kebahagian lahir bathin yang berlangsung berbulan-bulan lamanya pada rakyat di seluruh Indonesia. Suasana gembira bangsa Indonesia tidak terusik sebelum kedatangan Belanda kembali ke Indonesia.

Lima puluh dua hari setelah Republik Indonesia lahir, pada tanggal 29 September 1945, pasukan Sekutu mendarat di Jakarta. Pasukan yang pertama mendarat adalah devisi India ke-23 yang sebahagian besar terdiri dari orang-orang India. Tugas utama pasukan Sekutu datang ke Indonesia adalah untuk melucuti senjata balatentara Jepang, mengurus tawanan perang, dan menjaga keamanan. Namun dibelakang itu tersembunyi pula tugas mereka untuk mengembalikan kekuasaan penjajahan ke tangan Belanda, yang merupakan salah satu anggota Sekutu.

Pada tanggal 13 Oktober 1945 jam 10.00 pagi, pasukan Sekutu yang berkekuatan 12 kapal perang merapat di Teluk Bayur, Padang. Dalam pasukan Sekutu terdiri dari opsir-opsir Inggris, serdadu berbagai suku bangsa India, Gurkha, Sikh, dan lain-lain serta ikut membonceng pula beberapa opsir Belanda yang berindentitas NICA. Pimpinan NICA yang datang ke Indonesia adalah Dr. H J. Van Mook.

Orang-orang NICA yang menyelundup tersebut berfungsi sebagai alat pemerintah sipil Belanda yang diharapkan dapat menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda di daerah-daerah Indonesia yang baru diduduki Sekutu. Usaha mereka pada mulanya adalah mempersenjatakan kembali bekas anggota tentara KNIL (Koninkljk Nederland Indisch Leger) yang baru saja dilepaskan Sekutu dari tawanan Jepang selama perang. Selanjutnya mereka berusaha mengadakan provokasi (perlawanan) terhadap rakyat maupun pimpinan bangsa Indonesia.

Revolusi di Sumatera Barat selalu dipengaruhi oleh terbatasnya kekuasaan pasukan-pasukan asing atas teritorial, karena disana tidak terdapat sasaran militer, ekonomi ataupun strategi lokal yang pentmg. Belanda pada tahun 1946 mengambil alih kekuasaan di Indonesia dari Inggris (Sekutu). Belanda ingin menguasai Indonesia secara menyeluruh terutama sumber daya manusia dan sumber daya alam.

Sesudah Agresi Belanda I pada bulan Juli 1947 Wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia hanya diperluas ke perbatasan daerah pesisir pantai. Sesudah agresi 11 pada bulan Desember 1948, Belanda berusaha menduduki dataran tinggi yang strategis dan mendirikan tempat berpijak di semua kota besar di Indonesia, misalnya Jogyakarta, Surabaya, Padang dan sebagainya. Dari sanalah Belanda mengadakan patroli-patroli dan berusaha menanamkan kekuasaannya di pedalaman. 19 Desember 1948 Tentara Belanda di Kota Padang mengadakan patroli ke Solok sambil mengusai nagari dan wilayah pedesaan.

Nagari Cupak yang letaknya agak ke pedalaman Sumatera Barat tidak luput dari incaran kekuasaan Belanda. Bahkan mereka sangat berambisi menduduki wilayah ini, karena letak daerahnya yang strategis di perbukitan kawasan kaki Gunung Talang. Cupak dijadikan basis penghubung dengan nagari atau desa lainnya di wilayah Solok bagian Selatan.

Pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948, Belanda mulai melakukan agresi II-nya di Sumatera Barat. Penyerangan pertama mereka pukul 08.00 terhadap kota Bukittinggi diserang lewat udara dengan kapal terbang Mus tang Belanda. Awal dari agresi ini Belanda bergerak ke seluruh front.

Tentara Belanda mulai melancarkan serangan ke front timur. Mereka menyerang pertahanan rakyat di Air Sirah yang merupakan garis statusquo. Serangan tentara Belanda mendapat perlawanan yang gigih dari pihak rakyat yang dibantu oleh kesatuan tentara Resimen III Kuranji, sehingga pertempuran-pertempuran yang dasyat terus terjadi.

Pada tanggal 20 Desember 1948, pagi-pagi buta kapal-kapal terbang Belanda telah membom dan menyerang kota Solok. Jalan Raya Solok-Padang Panjang tidak luput dari pemboman. Saranan utama dari serangan Belanda ini ialah sekitar danau Singkarak dengan tujuan hendak mendaratkan pasukan dengan pesawat-pesawat Catalina yang bisa mendarat di air. Sorenya mereka bergerak menuju kota Solok. Bergeraknya tentara Belanda dari Singkarak berarti kota Solok terancam dari dua jurusan, yaitu dari Lubuk Silasih dan Singkarak.

Gerak pasukan Belanda yang dimulai dari Lubuk Silasih berkekuatan 400 buah kendaraan bermotor dengan tentaranya yang bersenjata lengkap. Tank-tank dan mobil-mobil berlapis baja berjalan dengan dilindungi oleh pesawat jenis Mustang sambil memuntahkan peluru-peluru. Mereka terus bergerak maiu ke jurusan Solok. Pada pukul 12.00 WIB iring-iringan Tentara Belanda memasuki Nagari Cupak. Gerak maju mereka ke arah Solok, tentara Belanda secara diam-diam dibuntuti terus oleh para pemuda pejuang dan rakyat sekaligus mengawasi setiap gerak-gerik tentara Belanda.

Para pemuda dan pejuang lainnya di Cupak selalu bergerilya ketempat-tempat yang tersembunyi seperti ke daerah Sawah Taluak, Tabek Duduak, dan Padang Dama. Daerah ini agak kepedalaman sehingga sangat sulit diketahui oleh pasukan Belanda. Mereka menyusun strategi di tempat-tempat tersebut untuk menyerang tentara Belanda, kalau Belanda kembali masuk wilayah Cupak.

Sesuai perintah daii Ramli Ahmad selaku pemimpin perjuang rakyat di Nagari Cupak, maka rakyat disuruh untuk mengungsi ke tempat-tempat yang agak jauh dan aman dari jangkauan pasukan Belanda. Rakyat mengungsi ke daerah pedalaman Cupak seperti Sawah Bukik, Padang Dama, Tabek Daduak dan daerah lain. Hal ini bertujuan untuk menjaga keselamatan rakyat. Sore harinya Belanda berhasil menduduki kota Solok, setelah menembus dengan gencar pertahanan TNI Resimen III Kuranji Divisi Banteng yang dipimpin oleh Letkol. Ahmad Husen.

Di kota Solok tentara Belanda membagi pasukannya ke seluruh pelosok daerah, yaitu ke Sawahlunto, Padangpanjang, Tanah Datar (Batusangkar), Payakumbuh, dan ke daerah Pesaman yang masing-masingnya 50 kendaraan. Pasukan yang tinggal lagi di Solok hanya 100 kendaraan bermotor dengan berkekuatan 2 kompi tentara. Masing-masing bermarkas, 1 kompi di rumah Bupati Solok dan 1 kompi lagi di Tangsi Polisi kota Solok.

Pada tanggal 23 Desember 1948 rencana tahap pertama Belanda telah terlaksana. Semua kota-kota yang penting telah diduduki. Mereka selanjutnya mulai melaksanakan rencana tahap kedua menghancurkan kekuatan RI dan memulihkan keamanan di Indonesia.

  1. Peranan Tokoh dan Pendukung Perjuangan

Pemuda-pemuda telah mempelopori revolusi dan bergerak dalam berbagai bidang. Rakyat biasa dengan semangat yang menyala-nyala sudah siap pula menghadapi segala kemungkinan. Tindakan-tindakan seperti itu biasa juga dalam revolusi hampir tidak dapat disingkiikan adanya perbuatan-perbuatan yang kadang-kadang mengandung unsur-unsur negatif yang bisa merugikan perjuangan bangsa.

Banyak tindakan-tindakan yang perlu diambil dan di siapkan, disamping menggalang suatu kekuatan yang sangat penting, diantaranya adalah mengenai persiapan persenjataan. Kaum revolusioner berusaha  mendapatkan senjata-senjata dari pihak musuh dengan berbagai macam saluran, malahan ada juga dengan unsur kekerasan.

Peranan seorang pemimpin ataupun tokoh perjuangan yang mengomandoi suatu tindakan perjuangan diperlukan sekali oleh para pendukung perjuangan yang terdiri dari para pemuda dan rakyat. Seorang pemimpin perjuangan haruslah bisa dan mampu menahan diri dan tenang dalam segala tindakan. Langkah yang akan diambil oleh pemimpin mesti dipikirkan dan diperhitungkan masak-masak terlebih dahulu. Sedangkan Para pemimpin pemerintahan dan organisasi di Cupak seperti, Wali Nagari, Alim Ulama, Organisasi Pemuda Pejuang, dansebagainya turut berperan dan berjuang menetang penjajahan Belanda. Para guru-guru sekolah yang ada di Cupak seperti Guru Sekolah Rakyat, Sekolah Taman Pendidikan (Muhamadiyah), Pesantren dan sebagainya, menghimpun rekan-rekannya dan murid-murid untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Para pemuda-pemuda di Cupak ada yang menjadi Badan Keamanan Rakyat (BKR), anggota Hizbuilah, organisasi pemuda dan sebagainya. Mereka memikul tanggung jawab untuk membela rakyat dari keganasan
kaum penjajah. Perjuangan mereka ke medan perang sesuai dengan perintah komando atau pemimpin perjuangan yang mengatur strategi melawan dan menentang musuh.

Ketika perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Cupak dibentuk suatu Organisasi Perjuangan Rakyat Cupak. Mereka ini dibawah komando Let. Kol. Ahmad Hosen pemimipin barisan tentara Resimen III Kuranji di Solok. Adapun anggota-anggota dari Organisasi Perjuangan Rakyat Cupak diambil dari para guru Sekolah Taman Pendidikan (Muhamdiyah), Pemuka Masyarakat Cupak, Cerdik Pandai, Alim Ulama, dan juga bekas tentara Gyu Gun. Susunan lengkap para anggotanya adalah:

  1. Ramli Ahmad sebagai ketua I,
  2. Idris Hasan sebagai ketua II,
  3. Kulin Renko, Rauf Ali, dan Amir Dt. Marajo sebagai Setia Usaha I, II, dan III,
  4. Rahman Ahmad dan Marzuki Atik sebagai Bendahara I dan II,
  5. Sedangkan Komisaris, Muhammad Said, jama'an Jafar, Aman Husin, Karana Jamin, Yusuf Kati, Gumir Hasan, Munap Ampang dan Malik Ridwan.

Mereka (organisasi) inilah yang menjadi basis sebagai pemimpin perjuangan menentang penjajahan Belanda yang ingin bercokol di nagari Cupak. Dengan berbagai pengalaman dan latihan militer yang mereka peroleh dari masa pendudukan Jepang, dipadu dengan kekuatan rakyat dan Pemuda-pemuda yang ingin berjuang membela nagari Cupak. Disamping itu juga dilengkapi dengan persenjataan yaitu, senapan laras panjang dan pistol yang diperoleh ketika Jepang menyerah, kemudian golok, pisau dan sebagainya. Sistem peperangan yang dilakukan oleh para pejuang rakyat Cupak menghadapi tentara Belanda yaitu bergerilya.

Dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia disamping peranan golongan intelektual dan kaum adat, golongan Alim Ulama tidak bisa bergitu saja dilupakan peranannya, lebih-lebih sesudah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI. Dalam kencah revolusi mempertahankan kemerdekaan RI peranan Alim Ulama di Indonesia umumnya dan di Minangkabau khususnya sangat antusias sekali.

Pada saat Majelis Islam Tinggi (MIT) mengeluarkan fatwa, bahwa berjuang mempertahankan agama, bangsa dan tanah air adalah perjuangan suci. Gugur dalam perjuangan adalah mati syahid, maka fatwa MIT menyebabkan kemudian terbentuk barisan-barisan : Fisabilillah, Hizbullah, dan sebagainya untuk berjuang digaris depan digaris belakang memberi semangat kepada rakyat supaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan jiwa raga tanpa takut menghadapi tentara Belanda. Para pemimpin dan alim ulama mengembleng rakyat untuk siap menghadani segala kemungkinan dan mengatasi segala macam rintangan yang timbul baik berasal dari dalam maupun dari luar.

  1. Aksi Rakyat Menyerang Pasukan Belanda

Sama di banyak daerah Indonesia lainnya, terutama dihari-hari pertama revolusi, pemuda merupakan pendorong dan ujung tombak perjuangan. Rakyat seluruh Indonesia yang telah mengenal dan mengalami pahit getirnya penjajahan Belanda dan pemerintahan fasis Jepang yang penuh kekejaman, tidak dapat menerima kembalinya penjajahan Belanda. Begitu pula dengan hati-hati dalam memata-matai gerak-gerik Belanda setiap saat.

Pada tanggal 22 Desember 1948, para pejuang yang datang dari berbagai nagari di Solok, yang dikomandokan oleh Letda. Yulius Atom, melakukan serangan terhadap tentara Belanda yang~berada di markas mereka di rumah Bupati Solok di malam hari. Kemudian pada hari berikutnya tanggal 24 Desember 1948, para pejuang kembali melakukan penyerangan pada malam hari, kali ini dilakukan dengan cara yang agak lain dari biasanya, salah satu carany a yaitu menggunakan Lebah (tawon). Seorang pejuang yang berasal dari Cupak berhasil mengumpulkan 2 karung Lebah. Kemudian secara diam-diam lebah-lebah tersebut dibawa oleh para pejuang ke markas tentara Belanda yang berada di sekitar rumah Bupati Solok dan yang berada di tangsi Polisi. Setelah itu lebah atau tawon tersebut dimasukan ke kamar-kamar melalui jendela yang dihuni oleh tentara Belanda. 

Menurut Rahman Ahmad yang ikut juga dalam aksi penyerangan tersebut, semua tentara Belanda yang lagi tidur dan santai berhamburan keluar rumah. Ada yang tidak pakai baju cuma mereka pakaian dalam saja dan juga ada yang tidak membawa senjata mereka keluar karena terkejut. Pada saat momen atau situasi itu para pemuda dan pejuang lainnya melakukan serangan mendadak terhadap musuh dengan menggunakan senjata apa adanya, seperti pistol, golok, parang, sabit, bambu runcing, dan sebagainya. Para pejuang dan pemuda-pemuda tidak sedikit membunuh tentara Belanda yang sedang panik serta kebingungan karena serangan lebah tersebut. Pada peristiwa penyerangan ini para pejuang yang datang dari Cupak banyak mendapatkan senjata baik berupa pistol, senapan dan granat tangan yang dirampas dari tangan tentara Belanda yang tewas.

Pada tanggal 27 Desember 1948, di Cupak terjadi pertempuran antara para pejuang rakyat Cupak dengan pasukan Belanda di Balerong desa Balai Tangah. Pasukan Belanda yang sedang patroli di hadang dengan tembakan oleh para pejuang Cupak yang kebanyakan terdiri dari para pemuda berkekuatan sekitar 600 pejuang dibawah komando Ramli Ahmad, Idris Hasan dan Kulin Renko. Dalam pertempuran tersebut dipihak Belanda banyak yang tewas, sedangkan dipihak pejuang tidak ada korban jiwa. Para pejuang kembali masuk arah pedalaman Cupak setelah datangnya bantuan pasukan Belanda dari Solok.

Pada bulan Desember 1948, para pejuang di Cupak memperoleh persenjataan berupa Geren sebanyak 57 buah beserta pelurunya, yang diserahkan oleh tentara Republik yang datang dari Padang. Senjata yang diperoleh ini merupakan pemberian dari pasukan India yang menjadi tentara sewaan Belanda. Perolehan persenjataan ini berkat kesepakatan antara Perdana Mentri India, Nehru dengan Wakil Presiden RI, Mhd. Hatta. Kepergiaan Hatta ke India atas perintah Presiden RI Soekarno sama sekali tidak diketahui oleh siapapun termasuk pemerintahan Hindia Belanda.

Sehubungan dengan semakin gencarnya Belanda melakukan serangan di beberapa daerah di Minangkabau, maka Residen Rasyid, memerintahkan kepada semua pasukan pejuang yang ada didaerah-daerah untuk bergerilya dengan melancarkan serangan secara sembunyi-sembunyi terhadap tentara Belanda. Begitu juga dengan para pejuang rakyat Cupak selalu waspada terhadap gerak-gerik pasukan Belanda yang datang dari arah manapun.

D- Peristiwa 4 Januari 1949 dan Cupak Lautan Api

Setelah terbentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tanggal 22 Desember 1948 di Halaban, Rakyat Sumatera Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya merasa lega. Belanda tidak bisa berkata bahwa Republik Indonesia sudah hancur dan RI berhadapan dengan Belanda sebagai negara dengan negara, walaupun keadaan senjata tidak berimbang.

Lahirnya PDRI, maka segala sesuatu taktik dan cara perjuangan melawan penjajahan Belanda telah mulai terarah dan terpadu baik pada pemerintahan sipil, maupun dengan TNI. Dengan demikian sudah memperlihatkan kekompakan dalam segala lapisan masyarakat terutama antara rakyat dengan angkatan bersenjata RI.

Begitu juga hubungan komunikasi telah diperluas jaringannya dengan mempergunakan tenaga-tenaga kurir disamping radio markoni guna memperlancar penerimaan dan pemberitahuan imformasi mengenai situasi dan kekuatan musuh (Belanda). Posisi dan strategis penempatan pos-pos pertahanan oleh TNI telah diatur sedemikian rupa seperti halnya dalam daerah Kabupaten Solok telah ditempati beberapa pos penjagaan di
setiap nagari dan pelosok desa.

Di Nagari Koto Anau telah ditempatkan satu kompi pasukan TNI dari Resimen III Kuranji untuk melakukan penghadangan terhadap gerakan tentara Belanda yang datang dari arah Padang dan Solok. Di nagari Cupak juga terdapat pos-pos penjagaan TNI yaitu di Desa Penyalai dan di Desa Sawah Taluak.

Pasukan tentara Belanda yang bermarkas di Kota Solok, tiap-tiap hari mulai dari pagi pukul 07.00, sebahagian tentaranya berpatroli di sepanjang jalan raya antara Solok dan Padang (melewati wilayah Cupak dan Lubuak Silasih) kemudian kembali ke Solok pukul 05.00 sore. Akan tetapi pada mala hari mereka tidak keluar dari pos atau markas mereka, karena itu para pejuang sering melakukan serangan pada malam hari. Pada tanggal 3 Januari 1949 (malam hari), para pemuda dan rakyat yang dibantu oleh pasukan kompi Resimen III Kuranjiyang bermarkas di Cupak dibawah pimpinan Kompi Kapten Muchni Zein, bergerilya merintangi jalan-jalan yang dilalui oleh pasukan bermotor Belanda yang melakukan tugas patrolinya. Muhammad Said, Amin Husin, Munap Ampang dan pejuang Cupak lainnya merintangi jalan dengan menembang pohon-pohon kelapa yang tumbuh di pinggir-pinggir jalan raya Solok - Padang yang melintasi wilayah Nagari Cupak sepanjang 5 km, mulai dari daerah Gaduaug Pama sampai ke daerah Jua Gaek.

Esok harinya tanggal 4 Januari 1949 jam 07.00 lewatlah pasukan Belanda sebanyak 10 motor tank dan panser ke Padang. Setibanya di Jua Gaek (Cupak) tentara Belanda beserta iring-iringan patrolinva dihadang oleh para pejuang Nagari Cupak, yang dibantu oleh tentara Republik dibawah pimpinan Letda. Marah Yulis Atom dari kesatuan Resimen III Kuranji yang bermarkas di Koto Anau dan Cupak. Para pejuang dan pemuda-pemuda Cupak juga terdiri dari bekas Gyu Gun dan Heiho. Oleh karena jalan mereka dihadang dengan rintangan pohon-pohon kelapa, maka tentara Belanda itu turun dari kendaraan dan berjalan kaki sambil melakukan serangan balasan terhadap para pejuang.

Setelah pasukan belanda berjalan ke pendakian Desa Sungan Rotan, sebahagian pejuang Cupak disana yang berkekuatan sekitar 800 orang pejuang telah menanti kedatangan tentara Belanda tersebut dengan tembakan yang datang dari segala arah. Seterusnya disinilah terjadi pertempuran dan penyerangan besar-besaran secara frontal (basosoh) oleh kedua belah pihak, tidak sedikit dari musuh (tentara Belanda) yang tewas ditangan senjata para pejuang nagari Cupak. Semua senjata musuh aoo yang tewas diambil oleh para pejuang begitu pula dengan pakaian-pakaian tentara Belanda yang telah tewas ikut mereka lucuti. Pasukan tentara Belanda telah kewalahan menghadapi serangan dan gempuran dari para pejuang. Kira-kira pukul 15.00 sore barulah muncul bala bantuan tentara Belanda yang datang dari Padang, Bukittinggi dan Batusangkar. Kedatangan bantuan pasukan Belanda membuat serangan musuh mulai gencar dan mulai masuk ke pelosok-pelosok wilayah nagari Cupak. Para pejuang melihat suasana yang demikian tanpa diperintah oleh komando langsung bergerak mundur ke Sawah Taluak, Padang Dama, Sawah Bukit dan sebagainya, yang diperkirakan sulit diketahui oleh tentara Belanda. Hal ini dilakukan oleh para pejuang karena persenjataan Belanda yang lengkap dan lebih modern serta didukung oleh tentara yang sekian kali lipat banyaknya dari pada pasukan pejuang nagari Cupak.

Dalam gerak majunya tentara Belanda memperlihatkan kekejamannya dengan menembaki semua tempat yang mereka curigai. Kemudian yang lebih kejam lagi mereka membakar rumah-rumah pendu duk yang tidak berdosa, dan tidak ketinggalan juga gudang-gudang beras, lumbung padi, pondok-pondok dan bahkan rumah adat Minang (bergonjong) serta surau-surau. Semuanya tidak lepas pula dari sasaran pembakaran mereka. Pembakaran dilakukan Belanda mulai Jorong (Desa) Sungai Rotan sampai ke Simpang jalan ke Balai Gadang habis terbakar semuanya.

Dalam penyerangan terhadap pasukan tentara Belanda pada tanggal 4 Januari 1949, 3 orang pejuang Nagari Cupak tewas sebagai syuhada yaitu, Muhammad Sayid, (Polisi Tentara dan ex. Gyu Gun), Baharudin Rumus (anggota BPNK) dan Data R. Mangkuto (anggota BPNK). Mereka dimakamkan di Pemakaman Balai Batu ceh di Desa Balai Pandan, karena tempat itu aman dari segala gangguan musuh dan menjadi Taman Makam Pahlawan nagari Cupak.

Pada tanggal 5 Januari 1949 nagari Cupak berhasil diduduki oleh Belanda. Pada tanggal inilah yang merupakan awal dari kekejaman dan keganasan pasukan Belanda di Nagari Cupak. Sejak tanggal 5 Januari - November 1949 secara terus menerus tentar Belanda menduduki nagari Cupak tanpa henti hentinya melakukan pembakaran, pengrusakan, penembakan dan bahkan pembunuhan terhadap rakyat nagari Cupak. Mereka (pasukan Belanda) melakukan pembakaran hampir setipa bulan terhadap rumah-rumah maupun jorong (desa) sekaligus secara bertahap yaitu, bulan Februari Belanda membakar Desa Balai Gadang, bulan April membakar Desa Penyalai, bulan Mei membakar Desa Belerong, dan bulan Juli membakar Desa Balai Tangah. 

Dalam aksi pembakaran yang dilakukan oleh tentara Belanda tidak kurang dari 400 buah rumah penduduk, pondok-pondok, dan lumbung-lumbung padi kemudian rumah bergonjong baik ukuran besar maupun kecil habis dilalap api. Kesemuanya habis menjadi debu yang tinggal hanya puing-puing yang berserakan. Selain Belanda melakukan pembakaran, tentara mereka yang masih belum puas atas tindakannya tersebut, kemudian mereka melakukan penembakan dan pembunuhan secara biadap dan kejam terhadap siapapun yang mereka curigai. Belanda tidak menghiraukan apakah rakyat biasa atau bukan, laki-laki atau wanita, bahkan anak-anakpun yang tidak berdosa ikut jadi korban keganasan yang tidak berprikemanusiaan oleh Belanda.

Menurut H. Rahman Ahmad, keganasan tentara Belanda di Cupak adalah, beberapa kejadian dan peristiwa penembakan dan pembunuhan terhadap rakyat Cupak, yaitu Belanda menembak 13 orang sekaligus di Desa Penyalai, 11 orang di dekat jembatan desa Sungai Rotan, 8 orang di daerah Sawah Ta.luak, dan 3 orang di daerah Tabek Daduak.

Pada bulan November pasukan Belanda yang ada di Cupak mulai mundur dan melapaskan nagari Cupak dari kekuasaannya. Hal ini disebabkan terjadinya penyerahan kekuasaan Kecamatan Gunung Talang dari kekuasaan Belanda kepada Ramli Ahmad selaku pemimpin pemerintahan Kecamatan. Penyerahan kekuasaan Kota Solok dari tangan Belanda diserahkan kepada Bupati Solok pada tanggal 25 November 1949.

Penyerahan kedaulatan kekuasaan selama bulan Desember 1949, berbeda-beda harinya di masing-masing kota di Minangkabau yang pernah diduduki Belanda. Sebagai puncaknya adalah penyerahan kedaulatan Sumatera Tengah berlangsung di Kota Padang pada tanggal 27 Desember 1949. Pada tanggal tersebut berakhirlah kekuasaan Belanda di Minangkabau khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Bagi rakyat nagari Cupak peristiwa-peristiwa yang terjadi selama pendudukan Beland a di dalam agresinya yang ke II di nagari Cupak sangat memilukan, mengguncangkan bathin dan sebagainya. Peristiwa 4 Januari 1949 tidak akan pernah dilupakan seumur hidup oleh anak cucu rakyat Cupak sampai akhri zaman nanti.

 

business
Kirim Komentar

Untuk artikel ini

person
stay_current_portrait
mail
chat

  [Ganti]  

reorder Profile Nagari Cupak

map Wilayah Nagari

account_circle Aparatur Nagari

event Agenda


  • Belum ada agenda

share Sinergi Program

insert_photo Galeri Foto

message Komentar Terkini

  • person Rizal intan sati

    date_range 22 April 2021 13:26:10

    Mantap.. Telusuri juga dan publikasikan lareh na...baca [...]

assessment Statistik Nagari

folder Arsip Artikel


  • FATMI BAHAR

    Wali Nagari

  • MAISYAFTA

    Sekretaris Nagari

  • ROBI ROMADANI

    Kepala Seksi Pemerintahan

  • DIAN NOVITA

    Kepala Seksi Kesejahteraan

  • FATMAWATI

    Kepala Seksi Pelayanan

  • ITNAWATI

    Kepala Urusan Keuangan

  • REGGY ULFA

    Kepala Urusan Umum dan Perencanaan

  • RINALDI

    Kepala Jorong Pasar Baru

  • SYAFRIZAL

    Kepala Jorong Pasar Usang

  • BERRY FIRMAN

    Kepala Jorong Panyalai

  • RIZA MAIYONDRI

    Kepala Jorong Balai Pandan

  • YUTIKA LAVENIA

    Kepala Jorong Balai Tangah

  • NENG NUZI MAIYANTI

    Kepala Jorong Aie Angek Sonsang

  • AMRIZAL

    Kepala Jorong Tangah Padang

  • SYAFRI DEVENDI

    Kepala Jorong Sawah Taluek

  • WIRA RIANTO

    Kepala Jorong Sungai Rotan

  • NURSAL

    Staff Pengelola PBB

  • CHIKI JULIA NESTA

    Staff Kasi Pelayanan (Operator DTKS Nagari)

  • YULIANI JUMATIL LAILA

    Staff Operator Siskuedes

  • TITIN SUMARNI

    Staff Pelayanan

  • VINA ZAHARA

    Staff Pelayanan

  • IFFATUL KHALIDA

    Staff Administrasi BPN

  • MELLY MARLINA

    Staff Perlengkapan Kantor

  • ASRIZAL

    Staff Pengelola Aset

  • TUTUT KRISDAYANTI ARFI

    Staf Kearsipan Nagari

settings Pengaturan Layar

TRANSPARANSI ANGGARAN
Sumber Data : Siskeudes
insert_chart
APBDes 2021 Pelaksanaan

Realisasi | Anggaran

PENDAPATAN
Rp. 646,516,767 | Rp. 2,607,532,309
24.79 %
BELANJA
Rp. 282,009,421 | Rp. 2,254,827,260
12.51 %
PEMBIAYAAN
Rp. 147,294,951 | Rp. 647,294,951
22.76 %
insert_chart
APBDes 2021 Pendapatan

Realisasi | Anggaran

Hasil Usaha Desa
Rp. 0 | Rp. 70,000,000
0 %
Hasil Aset Desa
Rp. 7,000,000 | Rp. 91,000,000
7.69 %
Dana Desa
Rp. 369,284,160 | Rp. 1,229,013,000
30.05 %
Bagi Hasil Pajak dan Retribusi
Rp. 0 | Rp. 75,068,309
0 %
Alokasi Dana Desa
Rp. 270,044,000 | Rp. 1,141,251,000
23.66 %
Bunga Bank
Rp. 188,607 | Rp. 0
100 %

Rp. 0 | Rp. 1,200,000
0 %
insert_chart
APBDes 2021 Pembelanjaan

Realisasi | Anggaran

BIDANG PENYELENGGARAN PEMERINTAHAN DESA
Rp. 257,084,421 | Rp. 1,320,581,604
19.47 %
BIDANG PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DESA
Rp. 0 | Rp. 575,474,120
0 %
BIDANG PEMBINAAN KEMASYARAKATAN
Rp. 6,925,000 | Rp. 158,169,964
4.38 %
BIDANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Rp. 0 | Rp. 123,768,000
0 %
BIDANG PENANGGULANGAN BENCANA, DARURAT DAN MENDESAK DESA
Rp. 18,000,000 | Rp. 76,833,572
23.43 %